Pernah nggak, kamu sudah capek bikin konten, ngiklan, sampai diskon berjilid-jilid… tapi hasilnya tetap sepi? Biasanya masalahnya bukan di produknya, tapi di siapa yang kamu ajak bicara.
Banyak bisnis di Indonesia, terutama UMKM dan brand kecil melakukan kesalahan yang sama: menjual ke “semua orang”. Padahal, semakin luas targetnya, semakin sulit kamu mendapatkan orang yang benar-benar peduli. Di sinilah customer persona berperan.
Customer Persona Itu Apa Sih?
Secara sederhana, customer persona adalah gambaran detail tentang orang yang paling mungkin membeli produkmu. Bukan cuma umur dan jenis kelamin, tapi juga pola pikir, kebiasaan belanja, sampai apa yang mereka takutkan atau inginkan. Ini bukan sekadar data kering, persona yang bagus terasa “seperti orang beneran”.
Contoh gampang:
- Untuk UMKM kuliner, pelanggan idealnya bisa jadi ibu muda yang butuh makanan praktis tapi sehat.
- Untuk brand skincare, kamu mungkin fokus pada remaja yang struggling dengan jerawat dan cari produk aman.
- Untuk jasa kursus, bisa jadi pekerja kantoran yang ingin upgrade skill tapi waktunya terbatas.
- Persona membantu kamu memahami bagaimana mereka membuat keputusan.
Unsur-Unsur Customer Persona (Dengan Contoh Nyata)
Agar persona tidak mengambang, biasanya ada beberapa komponen inti:
1. Data Demografis
Usia, lokasi, status, pekerjaan, penghasilan.
Misal: 25-35 tahun, tinggal di Jabodetabek, karyawan swasta.
2. Perilaku
Cara mereka mencari informasi, kebiasaan online, apakah suka scroll TikTok atau lebih sering baca review di marketplace.
3. Pain Points (Masalah Utama)
Apa yang mereka struggle?
Contoh: “Mau skincare yang aman tapi bingung pilih karena terlalu banyak produk.”
4. Goals / Keinginan
Apa yang mereka harapkan?
Misal: wajah lebih cerah dalam 2 minggu tanpa ribet.
5. Preferensi Platform
Ada yang aktif di Instagram, ada yang cuma buka Shopee, ada juga yang lebih percaya video review di TikTok.
6. Pola Pembelian
Apakah mereka impulsif? Harus lihat review dulu? Nunggu promo?
Contoh Customer Persona Fiktif yang Realistis
Persona: “Alya – Si Pencari Skincare Aman”
- Usia: 27 tahun
- Lokasi: Bandung
- Pekerjaan: Admin perusahaan, penghasilan 4-5 juta
- Kebiasaan: Suka scroll TikTok malam hari, sering nonton review produk
- Pain points: Pernah breakout karena pakai produk murah sembarangan
- Goals: Cari produk yang aman, BPOM, dan cocok untuk kulit sensitif
- Platform favorit: TikTok, Instagram
- Pola pembelian: Cek review dulu, biasanya beli saat payday atau ada free ongkir
Dengan persona seperti ini, kamu jadi tahu cara bikin konten, angle iklan, bahkan copywriting yang resonate.
Kenapa Customer Persona Penting untuk Kampanye Marketing?
1. Menghemat Budget Iklan
Iklan ke orang yang “nggak peduli” itu mahal. Persona membuat ads lebih tepat sasaran.
2. Konten Lebih Relevan
Kamu jadi tahu harus ngomong apa, pakai bahasa seperti apa, dan bahas problem apa.
3. Menentukan Tone of Voice
Untuk persona “Alya”, tone yang cocok adalah lembut, meyakinkan, dan edukatif.
4. Meningkatkan Konversi
Ketika audiens merasa “wah, ini gue banget”, mereka lebih cepat mengambil keputusan.
5. Strategi Marketing Jadi Lebih Presisi
Kamu bisa menentukan platform paling efektif, jam posting, format konten, hingga promo yang paling menarik.
Pengalaman di lapangan nunjukkin satu hal: brand kecil yang punya persona yang jelas biasanya lebih cepat berkembang dibanding brand yang menembak semua arah.
Cara Membuat Customer Persona (Praktis & Bisa Langsung Dipakai)
1. Kumpulkan data dari pelanggan yang sudah ada
Lihat siapa yang paling sering beli, bukan siapa yang kamu harap beli.
2. Analisis insight dari platform
TikTok Analytics, Instagram Insight, Shopee/Sociabuzz/Lazada dashboard.
3. Lakukan mini survey atau tanya langsung
Tawarkan voucher kecil sebagai insentif.
4. Perhatikan review kompetitor
Banyak clue dari komentar negatif mereka.
5. Buat 1-3 persona saja
Jangan kebanyakan nanti malah bingung sendiri.
Kesimpulan: Mulai dari Mengenal Pelangganmu Dulu
Customer persona bukan teori rumit. Ini adalah alat supaya kamu bisa berhenti menebak-nebak dan mulai berbicara langsung ke orang yang tepat.
Semakin jelas siapa “pelanggan ideal” kamu, semakin mudah:
- bikin konten,
- ngatur budget iklan,
- dan meningkatkan penjualan.
Kalau selama ini marketing kamu terasa “kurang ngena”, mungkin saatnya berhenti menembak semua orang dan mulai memahami siapa yang sebenarnya kamu layani. Siap bikin persona pertamamu?

